You are here::
 
 

BAHASA SANTUN

E-mail Print PDF

BAHASA SANTUN

A. SAIFUL ISLAM THAHIR

 

I. ITU BAHASA LISAN

 

Perjalanan menuju Maros, menghadiri undangan ketua PA. Acara Maulid Nabi Besar Muhammad saw, diliput televisi swata. Maklum penceramahnya Ustaz Maulana Jamaah.

Sepanjang perjalanan ke Maros hujan deras menerpa kendaraan, udara sejuk dan berkabut, cenderung dingin. Bersyukur ada Pak H.M . Thahir Hasan menghangatkan suasana dengan menyajikan sebuah kisah lucu dalam bahasa Bugis. Begini

Hari masih pagi ketika seseorang menghadap ke kantor PTA di Jalan Nuri Makassar dengan mengucapkan salam. Di teras kantor salamnya dijawab oleh seorang yang ternyata kemudian adalah pejabat tinggi. Isi dialog (diringkas dan diterjemahkan).

Tamu               : - Maaf Pak, barangkali sudah datang ‘gurutta’ Ustaz Haji A.?

Pejabat            : + Hah, kamulah yang punya guru, dia itu ‘anakgurukku’ (maksudnya pegawaiku)           

Sang tamu segera menyadari dengan siapa dia berhadapan, lalu memperbaiki pertanyaannya.

Tamu               : - Maaf Pak Ustaz, barangkali sudah datang ‘gurukku’ yang ‘anakgurutta' ustaz Haji A.?

Pejabat            : + Yah, dia sudah datang, masuklah....

 

Sekarang penggunaan istilah ‘gurutta’ dan ‘anregurutta’ sudah menjalar ke dalam bahasa tulisan, baik di media massa maupun dalam undangan (perkawinan misalnya).

Istilah ‘gurutta’ (G) yakni guru kita, mungkin dapat disejajarkan dengan dosen dan ‘anregurutta’ (AG) sejajar dengan guru besar, sebagai pengakuan murid atau mahasiswa; jadi merupakan panggilan sepihak. Maka bagaimana halnya bila dijadikan sapaan kedua belah pihak?

Pertama, sang G atau AG mengaku murid bagi dirinya sendiri. Kedua, mengakui dirinya sebagai murid yang lain. Ketiga, siapa yang menentukan kategori ‘G’ atau ‘AG’? Harian Fajar Tahun 2003 dalam jadwal khatib mencamtumkan G untuk mantan Kakanwil sedang untuk mantan Kasi ditulis AG.

Di sebuah mesjid dekat rumah kediaman Dr. K.H. Sahabuddin di Jalan Mappala, penulis bertemu dengan beliau ketika baru tiba dari Ambon

Penulis             : - Sianna na engka gurutta? (kapan guru kita tiba?)

Dr. K.H. Sh       : + Weé ndik, ajak kasi’, masirikka’tu (weh dik, jangan kasihan, saya malu itu).

 

Beliau lebih suka disapa dengan panggilan ustaz daripada sapaan gurutta. Mungkin gelar gurutta pada zaman beliau belajar sangat jarang digunakan atau khusus pada ‘tupanritaloppo’.

 

II. PENGARAH ACARA SALAT JUMAT

 

Kutipan:

Syukur alhamdulillah kita panjatkan atas kehadirat Allah swt, atas perkenaan-Nya jualah kita dapat menghadiri acara salat jumat secara berjamaah. Salawat dan taslim kita sampaikan kepada Rasulullah saw. sebagai rahmatan lilalamin. Sebelum kita melaksanakan salat jumat secara berjamaah terlebih dahulu kami dari pengurus akan mengumumkan beberapa pengumuman dst.

Ada empat frase yang perlu kita cermati dalam wacana singkat ini:

  1. 1.atas ke hadirat Allah swt.
  2. 2.Salat jumat secara berjamaah.
  3. 3.Sebelum kita – terlebih dahulu.
  4. 4.Mengumumkan beberapa pengumuman.

 

III. DOA PADA ACARA PELANTIKAN

 

Kutipan:

Ya Allah, pada pagi yang cerah ini kami berdoa kepada-Mu dalam upacara pelantikan Bapak Kepala........

Ya Allah, di tengah-tengah kami hadir Bapak Gubernur dan Bapak Panglima berdoa bersama, oleh karena itu ya Allah dst.

 

 

Kita perhatikan perbandingan berikut:

1. Dosen bhs. Ingg.      = - What is your name?

     Mahasiswa             = + My name is Mister Dahlan.

     Dosen                     = - Oh, no, no, jangan sebut Mister cukup nama tok.

     Mahasiswa             = + Sorry sir, my name is Dahlan.

2. Datu Soppeng          = - Nigapasi iyyae’ (siapa gerangan ini?)

   Datu Dessu              = + Iyya Pung, Lamapasessu

   Datu Soppeng          = - Nigangngaré musibawang.

   Datu Dessu              = + Iyye Pung, sibawaka’ Arung Lapajung

Pemali menyebut datu di hadapan Datu Soppeng. Meskipun sama derajat (darah biru). Datu Sessu menyebut namanya Lamapasessu, sedangkan Datu Lapajung disebut Arung Lapajung.

  1. 3.Kata Bapak adalah kata penghormatan terhadap seseorang yang dituakan. Namun tidaklah layak menyebut sapaan Bapak itu di muka Yang Mahaagung. Kedudukan manusia sebagai hamba tidak patut disandingkan dengan kedudukan Allah Yang Mahatinggi.
  2. 4.Dalam berdoa sering terjadi kekeliruan penggunaan kata ganti (prononima):

“ Ya Allah Tuhan Yang Mahakuasa, di negeri kita telah terjadi banjir besar menimpa saudura-saudara kita sehingga banyak meninggal dst”

“ YA Allah engkau berkuasa atas segala sesuatu, engkaulah yang menghidupkan dan Engkaulah pulalah yang membunuh, oleh karena itu dst.”

“Salam dan taslim kita persembahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW dst”

Untuk salawat ini ada dua catatan :

  1. 1.Junjungan Nabi Besar, yaitu yang dijunjung atau dipuja oleh nabi, sebaiknya disempurnakan menjadi junjungan kita Nabi Besar dst.
  2. 2.Sallallahu alaihi wasallam (saw.), bukanlah gelar atau kata ganti, jadi tidak repot ditulis dengan huruf kapital. Demikian pula pada frase subanahu wa taala (mahasuci Dia dan mahatinggi) disingkat swt.

Jadi :    - Allah swt (bukan SWT), namun Allah Rabbul Alamin.

             - Muhammad saw. (bukan SAW), namun Muhammad Al-amin

- Abu Bakar, r.a. (bukan RA), namun Abu Bakar Ashshiddiq.

 

IV. SAYA, AKU, KAMI

 

Kutipan Ceramah:

Kau muslimin, rahimakumullah.

Saya ingin sampaikan sebuah kisah Musa a.s. tercantum dalam Surah Thaha. Berjalan tengah malam. Musa melihat cahaya api di kejauhan, beliau mendekat. Tiba-tiba beliau mendengar suara memanggil, “Wahai Musa! Sungguh saya adalah Tuhanmu, maka lepaskanlah kedua terompahmu, karena engkau berada di lembah suci Tuwa. Dan saya telah memilih engkau, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan.”

Kata ganti saya adalah kata ganti untuk orang pertama tunggal (pembicara), berasal dari kata sahaya (bhs. Melayu) yang berarti pengiring ; sering dirangkaikan dengan kata hamba menjadi hamba sahaya ( hamba pengiring, pembawa payung, dll)

Kata ganti saya dapat digunakan oleh pembicara yang suka merendah namun tidak patut digunakan menjadi kata ganti untuk Tuhan Maha Pencipta. Kata ganti yang tepat untuk Tuhan adalah Aku (ana) dan Kami (nahnu), huruf awalnya ditulis dengan huruf kapital.

Satu lagi kutipan monolog melayu. Ketika pelaku telah membunuh lawannya yang telah membawa lari kekasihnya ia pun berkata, “Kini puaslah hati hamba karena telah membunuh tuan hamba”.

 

V. SAYANG LIMA RIBU

 

Ada gunung cantik disebelah timur Kota Makassar, namanya Gunung Bawakaraeng. Bawa berarti mulut, karaeng artinya raja. Dari mulut raja-raja keluar kata-kata yang bijak. Para pendaki gunung paham betul tentang pantangan berbicara kasar atau kotor bila berada di atas gunung tersebut. Sebagian ada yang lalai atau lupa, lalu tersesat jalan atau jatuh lemas.

Angkot di Makassar disebut péték- péték. Biaya murah jauh dekat lima ribu. Sebelumnya tiga ribu menjadi empat, dibayar dengan uang logam (recehan = péték- péték). Pagi itu agaknya supir sedang kesal, penumpang kurang. Namun masih bercanda ketika seorang menyetopnya. Rupanya temannya “ Lakekomae taibar...” (mau kemana engkau wahai bau busuk). Temannya itu melompat masuk sambil tertawa-tawa.

Di depan ada seorang perempuan bergegas menyeberang “ Tolo-tolona iyya”. Mobil direm mendadak, “anak sunda ...”

Ketika berpapasan dengan péték- péték temannya dilihatnya penuh penumpang, “Sangnging rassi-rassina kabula...” (selalu saja penuh mobil si kabul itu).

Sebelum sampai lampu merah diteriakinya temannya “apa kareba kong...” temannya itu senyum-senyum mengangkat tangan.

Saat lampu merah menyala, “Ejami sédéng, kabula...”

Masyaallah, rasanya mau turun pindah mobil, namun sayang limbi, sabar sayang, hitung-hitung satu umpatan seribu perak.